17 Januari 2010

Ada apa dengan cartridge Printer Inkjet

Seringkali banyak konsumen yang menanyakan kepada saya mengenai merk/jenis printer apa yang awet, karena sekarang ini susah mencari printer yang awet seperti jaman "Canon BJC-2100" dengan cartridge yang legendaris BC-20 (seperti gambar disamping) yang dulu umur cartridge bisa lama bahkan tahunan. Mungkin maksudnya yang awet itu "cartridge" printer tersebut, sebab kebanyakan printer sebenarnya awet untuk bagian mesin/mekaniknya. Yang menjadi masalah adalah cartridge sekarang ini cenderung berumur pendek, bahkan bisa dibilang secara ekstrem "sekali pakai". Padahal kalau harus beli cartridge setiap habis tintanya maka akan sangat boros sekali pengeluaran kita. Coba kita kalkulasi saja, sebagai contoh cartridge canon, sekarang harga PG830 (black) sekitar Rp. 155.000,- dan CL831 (colour) Rp. 185.000,- jumlahnya sudah Rp. 340.000,- sedangkan harga Printer Canon IP1980 barus (plus 2 cartridge tentunya) hanya sekitar Rp. 440.000,- jadi selisih Rp. 100.000,- demikian juga dengan printer HP, Epson, dan lainnya.

Oleh karena itu sekarang ini untuk menghemat pengeluaran kita melakukan isi ulang tinta sendiri bila cartridge kita habis tintanya. Cukup dengan membeli tinta isi ulang seharga kurang lebih Rp. 20.000,- kita bisa mengisi cartridge sampai dua kali pengisian. Masalah baru timbul manakala kita mengisi cartridge tersebut kurang hati-hati atau bahkan asal-asalan, mungkin cartridge bisa menjadi rusak bahkan mati.

 Head Cartridge Kering

Cartridge Canon sebenarnya menggunakan teknologi thermal (panas) untuk mengalirkan tinta dalam proses pencetakan dokumen, selain itu tinta juga berfungsi sebagai pendingin head cartridge-nya. Sehingga jika cartridge dalam kondisi tinta yang habis pada waktu melakukan pencetakan maka bisa menyebabkan head cartridge rusak, sebab waktu head cartridge melakukan proses pemanasan untuk mencetak tidak ada tinta sebagai pendinginnya, akibatnya komponen head cartridge bisa hangus terbakar bahkan bisa mati total sehingga tidak bisa digunakan lagi. Jadi usahakan dijaga agar tinta didalam cartrdige tidak sampai habis 100%, cirinya bila hasil cetak sudah tidak rata segera lakukan isi ulang, atau dengan cara lain untuk mengetahui tinta habis bisa memakai "ilmu titen" (orang jawa bilang), yaitu sekiranya pencetakan sudah banyak dan kalau cartridge di angkat sudah terasa ringan, maka sudah waktunya diisi, jangan sampai terlambat.
Selain itu jangan sampai membiarkan permukaan head catridge kering (karena lama tidak digunakan),  permukaan head akan selalu ada sisa tinta sehabis mencetak dan jika printer tidak digunakan dalam jangka lama maka sisa tinta yang ada dipermukaan head akan mengering dan menjadi kerak, ini akan membuat head cartridge menjadi buntu. Sebaiknya gunakan printer secara rutin, kalaupun tidak ada pekerjaan mencetak maka sebaiknya gunakan printer barang 1 atau 2 lembar untuk mencetak baik hitam maupun warna paling tidak 1 minggu sekali, sehingga tinta dipermukaan tidak akan sempat mengering. Ada baiknya hidupkan printer sekitar 5 menit tiap hari walaupun tidak digunakan, dengan cara ini head akan selalu bersih, sebab waktu printer dinyalakan akan ada proses cleaning head secara otomatis.

Jika mengalami cartridge buntu, maka salah satu langkah penanganannya merendam sisi permukaan head dengan cairan pembersih khusus, kalau belum terlanjur menjadi kerak, maka direndam kurang lebih 10 menit sudah bisa normal kembali, selain itu gunakan jenis tinta isi ulang yang bagus dan berkualitas, sehingga tidak menyebabkan head cepat rusak.

Salah Memasukkan Tinta Warna
Dalam proses melakukan isi ulang terutama tinta warna seringkali terjadi salah posisi menentukan mana posisi warna magenta, yellow, atau cyan. Untuk melakukan pengisian tinta buatlah lubang pada tutup cartridge (kecuali cartridge HP sudah ada lubangnya dari pabrik),  perhatikan gambar disamping perbesar lubang kecil di posisi tersebut dengan bor atau paku kecil yang disertakan dalam kemasan isi ulang. Untuk Cartridge hitam posisi saya kira tidak jadi masalah sebab cuma ada satu lubang. Setelah itu isikan sekitar 3-4 cc per warna, jangan sampai tumpah karena terlalu penuh, sebab kalau terlalu penuh bisa berakibat tercampurnya antar ketiga warna, setelah selesai tutup lubang pake isolasi.

Bila terjadi kekeliruan posisi warna sehingga tercampurnya warna satu dengan yang lainnya akan mengakibatkan warna hasil cetak tidak sesuai dengan aslinya. Cara mengatasinya adalah dengan membuka tutup cartridge dengan pisau, setelah terbuka keluarkan gabus yang warnanya tercampur tadi dan cuci pake larutan pembersih khusus atau pake air hangat, selain itu bersihkan juga bilik tempat gabus tadi. Setelah bersih kembalikan pada posisi semula dan isi dengan tinta sesuai warnanya kemudian tutup kembali dan gunakan lem supaya tidak terlepas.

System Infus printer Inkjet

System infus printer bagi orang awam tentulah sangat menarik, karena dengan memakai system infus maka tinta tidak akan "telat/habis" karena akan selalu dapat terkontrol dari luar, apalagi tabung infusnya juga transparan sehingga kelihatan mana tinta yang habis, dan dengan begitu  tidak perlu melakukan isi ulang dengan system suntik, hal ini tentu sangat membantu bagi user yang menggunakan printer untuk cetak foto, atau desainer, serta user yang sering melakukan pencetakan dalam jumlah banyak, tetapi benarkah setelah di pasang system infus tidak ada masalah lagi ???

Ternyata berdasarkan pengalaman saya, dengan system infus pun juga tidak lepas dari masalah baru , karena banyak sekali masalah yang muncul setelah printer dipasangi sistem infus, ini biasanya terjadi kalau pemasangan infusnya sembarangan atau bahkan asal jadi. Pemasangan system infus seharusnya disesuai dengan sistem kerja cartridge itu sendiri, misal Canon tidak memiliki pompa yang cukup kuat seperti Epson (menurut saya yang paling bagus di pasang sistem infus adalah Epson R230), selain itu Printer Epson cartridge-nya dibuat untuk sekali pakai, jadi mau ndak mau user harus beli cartridge baru atau pasang infus.  Sedangkan kalau Printer Canon di infus maka yang terjadi adalah tinta sering "telat" alias tidak mau mengalir. Kemudian kalau HP masalah berada di posisi mainboard printer yang horisontal berada tepat dibawah Head Cartridge "parkir" jika printer posisi mati, ini tentu sangat riskan jika sampai tinta dari tabung terlalu banyak keluar dan menetes tepat di mainboard bisa berakibat terbakarnya komponen.

Perlu dipikirkan juga ruang gerak cartridge apakah "cukup leluasa" jika nantinya ditambah selang infus. Karena kebanyakan cara pemasangan selang infus yang sembarangan akan menyebabkan selang "nyrimpet" (dalam bahasa jawa), dan kalau hal ini terjadi maka printer tidak mau mencetak karena mekanik error, bahkan bisa rusak gir-gir yang didalam. Selain itu diperlukan tabung untuk menampung tinta pembuangan supaya tidak bocor kemana-mana. Berdasarkan pengalaman printer Canon biasanya ada bagian yang harus di potong agar selang infus bisa bergerak leluasa, selain itu canon sering mengalami tinta macet (tidak mengalir) hal ini karena cartridge memakai gabus didalamnya sehingga waktu printer dihidupkan dan sedang melakukan proses cleaning  pompa di dalam printer menjadi kurang kuat daya sedotnya. Berbeda dengan Printer Epson (dalam hal ini R230) ink tank yang digunakan tidak memakai gabus dan pompa didalam printer yang digunakan cukup kuat untuk menyedot tinta dari dalam tabung infus, sehingga aliran tinta berjalan lancar. Hal ini saya amati pada printer Canon IP1980 dan Epson R230 yang di pasang sistem infus pada waktu di hidupkan maka akan bisa dilihat bagaimana aliran tinta di  kedua printer, hasilnya tentu lebih lancar Epson. Memang kedua printer ini tidak bisa di bandingkan begitu saja karena dari segi harga juga jauh berbeda, tapi menurut saya kalau akan menggunakan system infus saya sarankan memakai Epson R230.

Perlu diingat juga bahwa pemasangan sistem infus tentu akan mengakibatkan hilangnya garansi resmi printer itu sendiri, sebab telah terjadi modifikasi sedemikian rupa, biasanya toko hanya menjamin (garansi) service infusnya saja. Kemudian jangan sekali-kali menaruh tabung infus lebih tinggi dari posisi printer (head), kalau ini terjadi maka tinta akan terlalu banyak mengalir dan tidak terkontrol dan dapat tumpah sehingga membanjiri bangian dalam printer. Kalau kita tidak membutuhkan pencetakan dalam jumlah besar dan tidak setiap waktu mencetak lebih baik pake cara "suntik" saja, tapi kalau intensitas pekerjaan besar sistem infus boleh juga sebagai pilihan, dengan syarat cari printer yang kuat dari segi mekanik dan bagus hasil cetaknya.

*dikumpulkan dari berbagai sumber, semoga informasi ini bermanfaat.

3 komentar:

Roman mengatakan...

Ternyata priter juga butuh perwatan yang bagus ya... kayak ayam lagak aja. Okeyy, thanks banget ya brow ....

Anonim mengatakan...

pagi-pagi saya sudah dihadapkan dengan printer rusak. masalahnya carriednya tidak mau bergerak dan lapu kuningnya menyala, saya kira blinking, tapi setelah saya coba reset dgn program reset sama saja, biasanya langsung tokcer, tapi apabila carried nya berada disebalah kiri bisa bergerak, tapi sampai di kanan berhenti lagi. pertema dinyalakan juga begitu, carriednya tidak mau bergerak

anwar mengatakan...

gmana cara ngatasi printer canon 1980 modifikasi yang kurang normal sedikit, kelihatannya kalo buat cetak photo pake ketas poto kelihatan ada garis2 horizontal samar kalau dari kejauhan tidak terlihat klo dari dari dekat terlihat, sdh tak head clean dan pake resetter tapi tetep pdhl baru tak ganti cartride warnanya dan msh dapat 3 bulan terima kasih mhn bantuannya